Jakarta, Warta Otonomi – Tim Verifikasi Lapangan (Verlap) Program Kampung Iklim (ProKlim) Tingkat Provinsi DKI Jakarta kunjungi RW 08 Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan dan RW 03 Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (2/9).
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka penilaian Proklim terkait efektivitas aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah diterapkan oleh warga di masing-masing wilayah.
Ketua Tim Verifikasi Lapangan sekaligus Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Nahilul Huda, mengatakan, peninjauan dilakukan berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta.
“Di sini kami meninjau aksi adaptasi dan mitigasi yang dilakukan warga. Aksi adaptasi mencakup pengendalian kekeringan, banjir, tanah longsor, peningkatan ketahanan pangan, hingga pengendalian penyakit. Sedangkan aksi mitigasi meliputi pengelolaan sampah dan pemanfaatan energi baru terbarukan,” ujar Nahilul.
Lurah Tanjung Barat, Riski Wijaya menjelaskan, pihaknya bersama jajaran RT, RW, kader, dan warga terus menggalakkan pembuatan sumur resapan (reservoir) sebagai langkah antisipasi dampak perubahan iklim. Selain itu, fokus utama wilayahnya juga tertuju pada pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang melalui pengolahan mandiri.
“Sesuai arahan, pengelolaan sampah tidak boleh sekadar dipindahkan, tetapi harus diolah agar membawa manfaat. Ini menjadi komitmen bersama antara warga dan pemerintah demi investasi lingkungan bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Pesanggrahan, Tengku Zainal, menyampaikan, keunggulan di wilayahnya terletak pada pengolahan sampah organik terpadu. Memanfaatkan lahan tidur seluas 1.500 meter persegi, warga mengelola budidaya magot Black Soldier Fly (BSF) dan metode Teba Modern.
“Dari 80 hingga 90 kilogram sampah organik sisa rumah tangga per hari, sebagian langsung diolah menggunakan maggot dan habis dalam 24 jam. Sisa dedaunan kering diolah dengan metode Teba Modern menggunakan cairan Biowash hingga menjadi kompos dalam waktu satu bulan untuk mendukung ketahanan pangan,” tuturnya. ( Budi / Sunar )
