FRANSISCA CALLISTA MENDEDIKASIKAN ILMUNYA UNTUK PEDESAAN

Banjar – Warta Otonomi
Tidak banyak wanita muda yang mempunyai pendidikan tinggi memutuskan hidup di pedesaan yang jauh dari tempat kelahirannya, hal ini yang dilakukan oleh Fransisca Callista (28) yang mendedikasikan ilmunya untuk pedesaan.

sisca (3)

Dia lahir di Kota Banjar 28 tahun lalu, pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga SMA, Sisca begitu nama panggilan akrabnya dia selesaikan di kota kelahiran nya.

Setelah tamat dari SMA, dia mulai kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Design Produk, lalu melanjutkan pendidikan S2 di Chiba Jepang Jurusan Desain Budaya.
Selesai kuliah S2 pada Tahun 2015, dia sempat tinggal di Jepang untuk bekerja sebagai relawan.

Kemudian dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, hal ini dilakukannya dengan niat untuk mendedikasikan ilmunya bagi masyarakat pedesaan.
Banyak tawaran kerja dari perusahaan besar untuknya, setelah karya-karya nya dikenal masyarakat luas.

Salah satu karya Sisca yang paling banyak dikenal masyarakat, baik lewat pemberitaan media on line, media cetak ataupun media sosial lainnya adalah “Pasar Papringan” yang ada di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

sisca (4)

Dia menggarap proyek ini bukan hanya sebatas pembuatan pasar umumnya, tapi bagaimana cara dia melibatkan seluruh warga masyarakat dan anak muda yang ada di Desa Ngadimulyo menjadikan pasar bukan hanya sebagai tempat interaksi antara penjual dan pembeli, Pasar Papringan yang digarapnya sekarang menjadi destinasi wisata.

Dalam benak banyak orang, pasar tradisional umumnya berkesan kumuh, becek dan bau, sentuhan Sisca menjadikan Pasar Papringan sekarang terkenal di wilayah Jawa Tengah. Sifat gotong royong masyarakat pedesaan, dan sumber alam yang tersedia membuat Sisca betah berbaur dan hidup di desa.
Wanita yang “smart dan humble” ini kepada Warta Otonomi mengatakan, sekarang anak-anak muda yang ada di desa tidak meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kerja di kota, melainkan menggarap desanya secara bersama-sama sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang layak untuk hidup.

sisca (2)

Kaum milenial yang ada di Desa Ngadimulyo dia berikan pemahaman tentang bagaimana mengekploitasi desanya, memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia, serta sifat gotongroyong masyarakat pedesan yang menjadikan Desa Ngadimulyo sekarang sebagai sebuah desa yang banyak dikunjungi masyarakat tidak hanya dari Kabupaten Temanggung saja, bahkan sudah menjadi desa tujuan wisata lewat pasar tradisional yang dia rancang dengan kearifan lokal.

Karyanya lalu membooming di Jawa Tengah, sehingga banyak kabupaten yang menginginkan daerahnya mendapat sentuhan dari Sisca.
Saat ini dia menggarap Proyek Festival Sindoro sumbing yang melibatkan dua kabupaten, yakni Kabupaten Tumenggung dan Kabupaten Wonosobo. Bisa dilihat di instagram @pasarpapringan, @ festivalsindorosumbing (Yudhi’s)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s