Penjarahan di Palu Pasca Tsunami

Belajar dari Jepang :

Mengapa Tidak ada penjarahan di Jepang ketika bencana Tsunami 11 Maret Lalu? Masih ingatkah kita akan bencana gempa yang disusul Tsunami yang melanda Jepang 11 April 2011 lalu? Setelah diguncang gempa dahsyat 9 Skala Richter, tsunami setinggi 10 meter, dan kini mereka harap-harap cemas menunggu redanya krisis nuklir.

Ribuan orang tewas. Jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air, kekurangan pangan dan obat-obatan. Tapi ada satu hal yang menarik dari kondisi bencana di Jepang ini, yaitu tidak adanya pemandangan penjarahan supermarket.

Bencana yang diperkirakan menelan 20.000 korban tewas itu masih banyak meninggalkan cerita, mulai dari krisis ekonomi yang menghantui, kerusakan transportasi dan infrastruktur sampai krisis nuklir yang tak kalah mengancam.

Tetapi dibalik itu semua ada setitik cahaya terang yang bagi kita merupakan hal yang langka kita temui di Bumi Pertiwi ini atau bahkan dunia. Hal tersebut adalah solidaritas yang kuat diantara masyarakat Jepang yang terkena bencana.

Padahal dalam berbagai bencana di sejumlah negara, penjarahan kerap terjadi. Usai gempa dahsyat di Haiti dan Cile, usai banjir besar di Inggris 2007, dan usai badai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, seluruh warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup.

Tapi ini tidak terjadi di Jepang. Mengapa? Jurnalis Ed West dalam artikelnya di Telegraph yang berada di Jepang mengaku kaget melihat bagaimana budaya Jepang yang masih sangat disiplin meski di tengah bencana dan kesusahan.

Ed melihat bagaimana supermarket justru rela menurunkan dan memotong harga bahan makanannya dan pemilik penjualan mesin memberi minuman minuman gratis kepada orang lain yang bersama-sama berusaha bertahan hidup. Bukan menaikkan dan mengambil untung.

Sejumlah mesin penyedia makanan dan minuman otomat juga dibuka secara gratis. Dan hal yang paling terasa adalah, tidak ada penjarahan. “Rakyat bekerja sama untuk selamat semuanya,” demikian kata West.

Bisa jadi ini merupakan budaya Jepang yang sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar mereka. Ada nilai-nilai yang tetap dijalani dalam kondisi apapun. Sejumlah pembaca CNN berikut ini menuliskan kesan mereka, mengapa warga Jepang tidak menjarah toko untuk bertahan hidup.

Kim:
Budaya Jepang sangat berbeda dengan budaya negara lain. Mereka menomorsatukan harga diri, kehormatan, dan martabat. Warga Jepang tidak melihat bencana ini sebagai kesempatan untuk mencuri apapun. Kita warga dunia harus belajar bagaimana bisa berbudaya seperti mereka.

Greg:
Dua kata: Kebanggaan nasional. Warga Jepang sangat menyintai negara mereka, dan rela melakukan apapun untuk itu. Ini berbeda dengan Amerika Serikat. Kami warga AS memang cinta AS tapi kami melakukan apa saja untuk diri kami sendiri dulu.

Natasha:
Orang Jepang itu sangat disiplin dan penuh kebanggaan atas negaranya. Meski ada penjahat, tapi berbeda dengan penjahat di belahan dunia lainnya. Mereka sangat berbudaya.

Carol:
Secara sosiologis, ini terjadi akibat adaptasi nilai yang mereka buat. Bahwa masyarakat dalam jumlah yang besar harus hidup di tanah yang sangat terbatas. Mereka harus memiliki keteraturan yang sangat tinggi.

Nampaknya kita pun di Indonesia harus banyak Belajar dari Jepang dalam hal ini.

(sumber : FB Kebajikan ( De 德 ) 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s