Nurdin Suhendar Mengajak Masyarakat Peduli Terhadap Lingkungan

Banjar WO — Nurdin Suhendar, ST aktivis lingkungan hidup dari Dewan Daerah Walhi Jabar yang juga Ketua Umum Paguyuban Bale Rahayat Kota Banjar, dalam perbincangan nya dengan Warta Otonomi perihal Hari Bumi Internasional menyampaikan keprihatinannya melihat kondisi sungai, gunung dan hutan yang rusak karena ulah manusia.

Asep Nur 20180422_150721
Nurdin Suhendar, ST (Asep Nurdin)

Menurut Nurdin Suhendar, kondisi sungai citanduy sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki panjang 178 km, memiliki hulu di Jabar dan bermuara di Jawa tengah serta melewati lima kabupaten/ kota ( Tasikmalaya hulu sungai di gunung Cakra buana, Ciamis, Banjar, Pangandaran serta Cilacap ) kondisinya memprihatinkan.

Kondisi ini di perkuat dengan Citanduy memiliki air baku yang tidak baik. Hal itu di karenakan banyak ditemukan limbah, baik itu limbah rumah tangga maupun limbah industri yang langsung di buang ke Citanduy.
Di sepanjang aliran DAS Citanduy terdapat banyak pengikisan, abrasi , longsoran di tambah pegunungan di sepanjang DAS Citanduy kondisinya di gunduli, hal itu membuat pendangkalan di sepanjang DAS Citanduy.

Hal ini berpengaruh besar pada areal pesawahan yang diairi citanduy.
Leuwi keris sebagai Bagian DAS Citanduy di lakukan rekayasa teknis berupa bendungan terbesar, rekayasa teknis akan mengubah ekosistem, mengubah daya dukung, mengubah ruang hidup, mengubah pola pikir. Sangat di mafhumi bahwa manfaat terbesar bendungan Leuwi keris bukan masyarakat Tasik, Ciamis ataupun Banjar tetapi masyarakat di luar itu.

Dampak negatif nya pasti akan di alami oleh masyarakat Tasik, masyarakat Ciamis, dan masyarakat Banjar. Maka bersiaplah masyarakat di tiga kabupaten tersebut.. !
Banyak titik di Sepanjang DAS Citanduy dalam kondisi rawan dan perlu penanganan baik rekayasa teknis atau pun penanaman pohon. Bisa dipastikan banyak program rekayasa lingkungan di sepanjang DAS Citanduy, sehingga banjir dan longsor yang di akibatkan oleh air Citanduy, dapat di minimalisir

Paguyuban Bale Rahayat dari tahun 2009 terlibat melakukan penanaman di bantaran sungai Citanduy, tapi sampai sekarang Citanduy tetap banjir dan dangkal. BBWSC menggelontorkan uang untuk melakukan pengelolaan DAS Citanduy tetapi citanduy tetap banjir dan longsor. Bale Rahayat menilai perlu adanya kesadaran kolektif dari semua steak holder baik yang berkuasa di pagunungan dan steak holder yang berkuasa di bantaran sungai.

Pilkada serentak seyogyanya jadi solusi atas kondisi DAS Citanduy, tetapi tidak ada satu pasangan calon pun yang memiliki program berbasis DAS, program nyata pengelolaan DAS. Pilkada provinsi ataupun pilkada kabupaten/Kota.
Di hari bumi, 22 April 2018 Paguyuban Bale Rahayat sebagai ORMAS lingkungan hidup yang bernaung di Walhi Jabar menyatakan sikaf:

1. Semua pasangan calon dalam pilkada serentak untuk memiliki program nyata dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
2. Kepada seluruh pemerintah daerah di Sepanjang DAS Citanduy untuk membuat sebuah peraturan agar tidak ada sampah yang di buang ke Sungai , baik yang berasal dari kegiatan industri ataupun rumah tangga
3.Gerakan ecovilage dan citanduy harus menyentuh kegiatan dan aktivitas masyarakat sekitar DAS Citanduy, masyarakat yang melakukan aktivitas penambangan dan masyarakat yang beraktivitas pertanian di wilayah Bantaran sungai, kedua aktifas masyarakat itu harus jadi pokok bahasan dalam melakukan pengelolaan dan rehabilitasi DAS citanduy.
4. BBWSC itu Bale besar untuk pengelolaan DAS Citanduy yang langsung memiliki anggaran dari kementerian, tentu di BBWSC terdapat banyak ahli lingkungan dan ahli teknis pengelolaan DAS. Paguyuban Bale Rahayat berharap BBWSC bukan tempat jual beli projek, bukan tempat ahli – ahli sulap dll. Paguyuban Bale Rahayat sangat berharap BBWSC bisa meminimalisir dampak negatif DAS citanduy
5. Paguyuban Bale Rahayat mengajak semua masyarakat untuk merubah cara pandang terhadap sungai, sungai sebagai dapur rumah keluarga menjadi sungai sebagai halaman rumah.

Paguyuban Bale Rahayat memandang bahwa tanpa ada keterlibatan masyarakat dalam melakukan pengelolaan DAS, tidak akan berdampak apa-apa,tanpa ada keterlibatan aktif masyarakat, semua hanya kegiatan ceremonial publikatif. (YudiRasdian)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s