Petinggi Polri Perlu Ubah Kebijakan Yang Mengandung Unsur Monopoli

Seperti Yang Dilakukan MSDC

Medan WO – Untuk mengurangi angka kecelakaan lalulintas di jalan raya, Kapolri diminta mewajibkam para calon pemohon SIM A  untuk bisa menyetir mobil dengan baik dan benar di jalan raya, serta harus pula memahami rambu-rambu lalulintas dan marka jalan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kecelakaan lalulintas di Jalan Raya yang diakibatkan oleh faktor human error [kesalahan pada manusia].

polri1

Hal itu dikemukakan salah seorang pengusaha pemilik Kurus mengemudi mobil di Kota Medan, yang tak ingin disebutkan jati dirinya dalam pemberitaan ini.

Ini semua hanya bisa didapatkan oleh calon pemohon SIM, jika mereka lebih dahulu belajar untuk menyetir mobil lewat kursus mengemudi mobil yang telah banyak tumbuh di kota Medan. Kalau sebelumnya, setelah siap belajar mobil tammat, maka siswa tersebut lewat Satlantas Polrestabes Medan diwajibkan ikut ujian teori dan praktek, tapi anehnya bagi pemohon SIM tidak melalui salah satu kursus mengemudi tanpa memiliki sertifikat rekomendasi dari MSDC  (Medan Safety Driving Centre), dinyatakan gagal, baik teori maupun praktek. Tapi bagi pemohon SIM dengan rekomendasi dari MSDC (Medan Safety Driving Centre) tetap lulus baik teori maupun praktek, tanpa mengikuti belajar mengemudi mobil, hanya memaju dan memundurkan kenderaan selama 15 menit dinyatakan lulus ujian teori maupun praktek, dengan cara membeli rekomendasi sertifikat yang dikeluarkan oleh MSDC seharga Rp.420 ribu/ lembarnya.

polri2

Sementara itu, Kasatlantas Polrstabes MS, kepada para pemohon SIM, unruk mengambil sertifikat ekomendasii dari MSDC seharga Rp.420 ribu, di luar PNBP Rp.120 ribu untuk SIM A dan Rp.100 ribu untuk SIM C, dan biaya surat kesehatan dokter seharga Rp.30 ribu. Dari penghasilan penjualan sertifikar rekomendasi ini saja MSDC berhasil meraup penghasilan per harinya Rp.120  juta. Belum lagi untuk sertfifikat untuk naik golongan yang dibandrol seharga Rp.550 ribu oleh

Medan Safety Driving Centre (MSDC), yang ada di Jln. Bilal Medan, milik 2 warga turunan, Jimmy dan Willy. Ini lagi merupakan tindakan monopoli yang dilindungi oleh oknum pejabat di Satlantas Polrestabes Medan, yang terjadi pembohongan publik di sini, seolah semua yang dilakukan oleh MSDC ini merupakan peraturan yang dikeluarkan oleh Satlantas Polrestabes Medan, padahal ini merupakan peraturan yang dibuat-buat oleh MSDC, yang diduga bekerjasama dengan oknum petinggi yang ada di Mabes Polri.

polri

Dari kejadian ini, diminta Kapolri Irjen Pol Tito Karnavian segera melakukan pengusutan dari tindakan yang dijalankan MSDC yang cenderung bersifat monopoli, dan menindak oknum petiggi di Mabes Polri yang diduga terlibat ada kerjasama dengan MSDC, karena ini sudah merugikan masyarakat Sumatera Utara,dan bertentangan dengan Undang-Undang yang dianut oleh NKRI, yaitu UUD 1945.

Walaupun sudah bertentangan dengan UUD 45, kita, tetapi kita pun heran, bagaimana monopoli yang tidak dibenarkan dalam system yang dijalankan oleh NKRI, tetapi entah bagaimana caranya, lembaga milik perusahaan swasta ini, bisa memonopoli (menguasai) dalam hal pengurusan SIM, sedangkan kursus mengemudi mobil yang lainnya dijadikan sebagai penonton budiman saja, karena mereka tidak diberi jatah dalam hal pengurusan SIM, walau pun diberi jatah tetapi tidak secara berkeadilan sehingga keberadaan kursus mengemudi mobil yang lainnya (di luar MSDC-pen) kondisinya bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Mereka dapat bertahan hidup, dengan nafas cengap-cengap ikan baung, yang sulit untuk bisa bertahan hidup.

Sedangkan Kursus Mengemudi Mobil MSDC, mereka  diduga punya koneksi dengan oknum petinggi di Mabes Polri, sehinggga dari penjualan sertifikat saja perusahaan swasta ini punya income yang sungguh fantastic, betapa tidak. Dari tiap lembar sertifikat yang dikeluarkan untuk sertifikat rekomendasi yang dikeluarkan MSDC dibandrol seharga Rp.420 ribu/lembarnya. Seandainya dalam satu hari saja sertifikat yang dikeluarkannya untuk pemohon SIM A ada 100 lembar,maka uang yang diperolehnya dari ‘’bisnis hitam’’nya ini meraup penghasilan  =Rp.120 juta tiap harinya, jika seminggu, 6 x 120 juta=720 juta rupiah, jika satu bulan 4 x Rp.720 juta = Rp.280 miliar, 80 juta rupiah, yang dijalani dari tahun 2011-2017, dalam saatu tahun = 12 X 280 miliar, 80 juta rupiah =Rp.yang banyak disorot publik, dalam mengeluarkan rekomendasi sertifikat itu, MSDC hanya mendidik calon pemilik SIM A, selama 15 menit saja tiap orang, sudah dinyatakan lulus. Ini memang di luar logika manusia awam, kecuali punya inteligensia tinggi, (otak nuklir).

polri3

Hal ini diperoleh MSDC dari pengurusan SIM A saja, belum lagi dari SIM C, yang sertifikatnya juga dijual seharga Rp.420 ribu, belum lagi kenaikan tingkat bagi para supir, misalnya, SIM A menjadi A-Umum, Sim B ke B-1, dan B-1 ke B-2. Untuk menaikkan golongan SIM, MSDC membandrol dengan ongkos Rp.550 ribu,  dan khusus SIM B-1 ke B-2, ini langsung diberikan oleh oknum Satlantas di Polrestabes Medan. Itulah jalinan kerjasama yang berhasil dijalin oleh Jimmy dan Willy dengan oknum di Satlantas Polrestabes Medan, itu semua karena ada hubungan yang mesra antara Jimm dan Willy dengan oknum petinggi di Mabes Polri. Dengan begitu semua urusan yang menyangkut ke Mabes Polri sudah bisa ditangani oleh MSDC, karena

Hal inilah yang banyak disoroti oleh publik, soal ini tentu ada apa-apanya dengan oknum petinggi di Mabes Polri, buktinya MSDC menguasai pengurusan SIM ini sejak tahun 2006, ketika berbasecamp di Pinangbaris. Hingga saat ini, di Jln. Bilal Medan,  MSDC masih tetap berkibar, ini sebagai pertanda, adanya hubungan intim antara Jimmy dan Willy dua  pemilik MSDC, dengan oknum oknum petinggi di Mabes Polri

Sampai sejauh mana hubungan Jimmy dan Willy dengan oknum-oknum petinggi di Mabes Polri, ini urusan mereka, tetapi kita selaku warga Kota Medan, punya tanggungjawab moril dengan tingginya angka kecelakaan lalulintas, akhir-akhir ini di kota Medan. Untuk itu dari Lembaga Perguruan Tinggi yang ada di kota Medan, sudah selayaknya melakukan  tes uji kelaikan bagi siswa-siswi yang sudah diluluskan MSDC. Karaena kalau yang mengujinya dari oknum Sarlantas Polrestabes Medan, dipastikan mereka akan lulus semuanya, karena diduga sudah ada MoU antara MSDC dengan oknum di Satlantas Polresta Medan. Makanya diperlukan dari lembaga independent dari Perguruan Tinggi Swastaa yang bersifat netral.

polri4

Sejalan dengan itu, Kapolri juga diminta untuk mulai mengusut bagaimana MSDC bisa dilibatkan dalam soal kepengurusan SIM, apakah dahulu ada MoU yang pernah dijaalin dengan pejabat tinggi Kepolisian RI di masa lalu, apakah ini perlu dilakukan revisi ulang dengan kebijakan yang sudah diambil di masa lalu. Soalnya, dari sistem yang menjurus monopoli seperti saat ini, sepertinya apa yang sudah dilakukan petinggi Polri di masa lalu, perlu ditinjau ulang, mengingat monopoli kan sudah tidak pas lagi dengan kondisi Polri yang sudah melakukan reformasi interen di tubuhnya,lagi pula kan banyak sekolah mengemudi mobil yang banyak hadir di tanah air. Selama ini, kondisi kursus mengemudi mobil di luar MSDC, khususnya di Kota Medan, kelihatan memprihatinkan, kalau tak mau dikakan menunggu sajal saja lagi. Mereka tidak diperkenankan ikut kepengurusan SIM, dengan sertifikat yang mereka keluarkan. Kalau pun ada, hanya beberapa kursus mengemudi saja lagi, seperti Immanuell yang dipimpin oleh managernya. Sudara Immanuel Munthe, dan beberapa kursus mengemudi lain yang tak banyak jumlahnya. Sementara mereka harus bertahan hidup, di tengah iklim yang tidak sedikit pun Satlantas Polrestabes Medan, memandang keberadaan mereka, yang rata-rata usianya sudah cukuup lama lahir di Kota Medan, seperti salah saatunya Sri Kreshna, dan Kursus Mengemudi Mobil yang berpusaat di bekas terminal Teladan, yang kini masih hidup, walau kondisinya sudah di ambang maut.

Semoga dengan digantikannya Kasatlantas Polrestabes Medan dari AKBP Indra Warman, kepada AKBP M. Soleh, diharapkan membawa angin segar bagi kehidupan kursus mengemudi mobil yang ada di Medan, karena bagaimana pun kursus-kursus mengemudi mobil ini kan tadinya juga merupakan Mitra Polri dalam memiminimalisir angka kecelakaan lalu lintas di Kota Medan, karena para siswa yang mereka latih dapat mematuhi rambu-rambu lalulintas, setidaknya mengenal tentang marka jalan. Semoga ini menjadikan pertimbangan bagi  para petinggi Polri yang ada di Mabes, dan juga pejabat-pejabat tinggi di tingkat Poldasu, untuk merangkul kembali kepada bekas mitra Polri yang mungkin sedikit banyaknya sudah terlupakan. Mari, kita satukan barisan, dan juga pembagian job-job agar ada pemerataan terhadap mereka sedara berkeadilan. Semoga ini dapat dijadikan pertimbangan, dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmat kepada kita sekalian. Amien Ya Robbal “Alamin. (uj).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s